By Wolfgang Bruno – 5/12/2007
Ada gerakan-gerakan dalam Islam, atau kelompok orang yang paling tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai umat Islam, yang memang agak lebih toleran dan tidak seekstrim aliran utama Islam. Salah satu gerakan tersebut adalah komunitas Ahmadiyah.
Gerakan Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889. Dia mengajarkan bahwa jihad “oleh pedang” telah digantikan oleh jihad “dengan pena,” dan ingin menyatukan semua agama di bawah bendera Islam. Dia mengaku sebagai “Pembaru zaman” tetapi tidak membawa ajaran baru. Setelah terjadinya perpecahan pada tahun 1914, para pengikutnya terbagi menjadi dua kelompok: The Ahmadiyya Muslim Community dan Gerakan Ahmadiyah Lahore, berpusat di Lahore, sekarang adalah Pakistan. Organisasi utama, Ahmadiyah Muslim Community (kadang-kadang disebut Qadiani dinamakan sesuai nama desa tempat lahir pendiri) mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi, meskipun ia tidak membawa ajaran baru. Gerakan Ahmadiyah Lahore, di sisi lain, menyebut diri mereka sebagai gerakan reformasi Islam dan menjaga anggapan umum umat Islam bahwa Muhammad adalah “penutup para nabi” dan bahwa tidak akan ada nabi baru setelah beliau. Kedua gerakan tersebut bagaimanapun, setuju bahwa Ghulam Ahmad adalah Mahdi dan Al Masih. Mereka juga percaya bahwa Quran tidak mengandung pengecualian.
Ahmadiyah masih mengikuti ritual Muslim tradisional seperti shalat dan puasa, tapi di antara aliran Muslim mayoritas, terdapat kecurigaan yang mendalam terhadap mereka, terutama karena gerakan Ahmadiyah telah menegaskan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi, sebuah klaim yang dianggap sesat oleh sebagian besar umat Islam. Konsentrasi terbesar Ahmadiyah ditemukan di anak benua India, di Pakistan dan Bangladesh. Kedua kelompok ini dipandang sebagai sesat oleh pemerintah Saudi, dan dengan demikian tidak diizinkan untuk melakukan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah.
Pada alislam.org, website resmi mereka, Ahmadiyah Muslim Community menyatakan tentang organisasi mereka sebagai berikut:
“Gerakan Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan, dalam lingkup internasional, dengan cabang di lebih dari 178 negara di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australasia, dan Eropa. Saat ini, jumlah anggotanya melebihi 200 juta di seluruh dunia [catatan: tidak mungkin untuk memverifikasi angka ini, yang hampir pasti telah bertambah], dan jumlahnya meningkat dari hari ke hari. Ini adalah gerakan Islam yang paling dinamis dalam sejarah modern. Gerakan Ahmadiyah didirikan pada 1889 oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di sebuah desa kecil dan terpencil, Qadian, di Punjab, India. Dia mengaku sebagai pembaharu yang diharapkan di akhir zaman, yang ditunggu komunitas agama-agama dunia sebagai Imam Mahdi dan Al Masih. Gerakan ini adalah pendukung perdamaian, toleransi, cinta dan saling pengertian di antara pengikut agama yang berbeda. Gerakan ini sangat percaya pada dan bertindak atas ajaran Al Quran: “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (2:257). Gerakan ini sangat menolak kekerasan dan terorisme [penekanan dalam aslinya] dalam bentuk dan untuk alasan apapun. Setelah kematian pendirinya, Gerakan Ahmadiyah telah dipimpin oleh para penerusnya yang terpilih – Khalifah. ”
Karena mereka merupakan gerakan yang tidak ortodoks dan merupakan gerakan Islam yang lebih damai Ahmadiyah sering dianiaya oleh umat Islam tradisional di dua daerah Pakistan dan Bangladesh. Dibawah hujatan keras dari Undang-undang di Pakistan Ahmadiyah tidak diperbolehkan untuk berkhotbah, atau bahkan untuk menyebut diri mereka Muslim.
Di bawah Partai Nasional Bangladesh (BNP)- pemerintah yang berkuasa, diskriminasi dan kekerasan terhadap Ahmadiyah semakin meningkat. “Ini adalah masa yang berbahaya di Bangladesh dimana pemerintah terlibat pelanggaran hukum dalam aksi kekerasan terhadap agama,” kata Brad Adams, direktur eksekutif Pengawasan Hak Asasi Manusia Divisi Asia. “Pihak berwenang telah mendukung ekstremis karena kegagalannya untuk mengadili mereka yang terlibat dalam kekerasan anti-Ahmadi dan dengan melarang publikasi Ahmadiyah.”
Pada Oktober 2004 Muslim fanatik meruntuhkan sebuah masjid Ahmadiyah, Massa merusak dan merampok rumah-rumah anggota Ahmadiyah, melukai paling sedikit 11. Salah satu yang terluka, Shabju Mia, 52, imam masjid, berakhir di rumah sakit. Saksi mata mengatakan pemimpin BNP lokal memimpin gerakan pengrusakan tersebut.
Pada bulan Juli 2006, koran Bangladesh Daily Star memuat berita tentang Ahmadiyah yang telah menjadi korban, tetapi artikel itu kemudian dihapus, kemungkinan karena adanya tekanan kuat dari gerakan anti-Ahmadiyah. Polisi menuduh empat Ahmadi telah melakukan khutbah di hadapan publik sebuah desa di Punjab. Para penduduk desa memprotes “khutbah yang tetap intensif” dari penganut Ahmadiyah di desa mereka, dan mendesak polisi untuk memastikan penangkapan terhadap mereka yang dituduh. Sekte minoritas ini mengutuk para penegak hukum karena keengganannya untuk bertindak dalam dua insiden penyerangan terhadap Ahmadi pada musim panas yang sama. Gerakan ini percaya hal ini akan mendorong para penentang fanatik untuk lebih agresif. GerakanAhmadiyah menjadi terkurung di rumah-rumah mereka dan tidak dapat pergi bekerja setelah fanatik mengancam akan menyerang mereka.
Ironisnya adalah bahwa meskipun Ahmadi bahkan hampir tidak dianggap muslim oleh muslim lain, sejauh ini satu-satunya muslim yang mendapatkan Hadiah Nobel untuk ilmu pengetahuan adalah seorang Ahmadi. Menurut Hugh Fitzgerald:
“Di antara hampir 1.000 penerima Hadiah Nobel dalam bidang sains (Fisika, Kimia, Kedokteran), nampaknya hanya satu penghargaan yang diberikan kepada seorang ‘Muslim’ – Abdus Salam. Beliau tenaga terlatih, sebagian di Laboratorium Cavendish di Cambridge, dan meninggal di Oxford (dimana ia meninggal setelah pension disana), Abdus Salam berbagi penghargaan dengan Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Ada anggapan bahwa Abdus Salam pantas mendapat 1/3 bagian dari penghargaan tahun 1979 tersebut. Tapi seluruh karirnya bergantung pada akses ke pendidikan dunia Barat. Dan sementara ia menulis tentang ‘Wisdom of Islam “(salah satu yang dilakukan untuk memenangkan Penghargaan Templeton), ia diakui baik di Pakistan, sebagai seorang’ Muslim ‘dan juga sebagai Ahmadiyah, sebuah sekte yang dianggap sebagai bukan muslim oleh banyak Muslim di Pakistan, Bangladesh. Klaim ini lebih untuk mengklaim hadiah Nobel nya, bukan penerimanya, dan tidak akan dibahas lagi apabila prestasinya memenangkan hadiah Nobel adalah berhubungan dengan dirinya sebagai Ahmadi yang memiliki kebebasan mental yang lebih besar, dibandingkan dengan penganut Islam ortodoks pada umumnya.
Dalam beberapa hal apa yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah menunjukkan Islam yang telah bereformasi, namun itu adalah dalam pandangan saya, tak peduli apakan versi Islam mereka akan dapat membentuk suatu alternatif yang baru terhadap mayoritas umat muslim dunia. Mereka terlalu jauh dari ajaran Islam ortodoks, terutama salah satu cabangnya yang menganggap pendirinya sebagai nabi. (Damayanti Natalia)
***
*Wolfgang Bruno adalah penulis Eropa. Dia menulis sebuah buku tentang gerakan Internet ex-muslim
Sumber: http://www.globalpolitician.com/22785-islam



Leave a Reply: